Sabtu, 18 November 2017

Belajar Kata Secara Asyik



DATA BUKU            : TTS & CARI KATA SEPUTAR ISLAM
PENULIS                  : ANNA FARIDA
PENERBIT               : QIBLA/BHUANA ILMU POPULER
CETAKAN               : PERTAMA, JULI 2014
TEBAL                      : 84 HALAMAN
ISBN                           : 978-602-249-663-2
HARGA                     : RP

BIASANYA dengan cara bagaimanakah Anda belajar mengenai kata, lama maupun baru? Kata yang terbentuk dari bahasa ibu kita, atau yang lumrah terdengar maupun terbaca? Kata dari bahasa asing sendiri, yang kerap atau jarang kita gunakan?
Ada banyak jutaan kata bertebaran. Kita kerap menggunakannya meski bisa jadi tidak menyadari artinya secara linguistik, tanpa bersandar teori ilmu bahasa tertentu. Kata-kata bisa menjadi umum dan kerap penggunaannya, atau khusus dan jarang digunakan; sesuai sifat kata sendiri sebagai penyusun kalimat dalam bahasa universal manusia.
Ada banyak cara bagi kita untuk belajar mengenai kata baru atau lama, dengan menyimak percakapan atau bacaan, secara audio atau audio visual. Dan dalam zaman internet sekarang ini, kian mudahlah bagi kita untuk belajar mengenal kata dari milis, blog, group Facebook, sampai jejaring sosial lainnya. 
Anna Farida, penulis buku produktif sekaligus guru di sekolah dasar dan menengah, jeli mengambil celah peluang pengenalan kata dengan menyusun buku TTS & Cari Kata.  Dalam biodata di halaman akhir kita akan mengenal bagaimanakah sosok Anna sendiri. Melalui sejumlah buku pendidikan yang ditulisnya, Anna menyampaikan pesan bahwa belajar bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Anna adalah kepala sekolah dan mentor menulis di Sekolah Perempuan, pembicara di berbagai pelatihan editing, dan penerjemah buku. Di group Facebook komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, Anna mengasuh kelas “EYD Hari Ini”. Berbagi wawasan tentang ejaan yang disempurnakan dan bahasa Indonesia melalui obrolan ringan, sesekali dengan cara bercanda. Dengan cara demikian, Anna berharap agar kecintaan bangsa Indonesia terhadap bahasanya tetap terjaga.
Jika di antara Anda ada yang suka mengisi TTS di koran atau majalah, buku ini barangkali bisa menjadi karib. TTS & Cari Kata Seputar Islam lebih tebal dan khusus. Agak rumit tapi tak mengesampingkan rasa asyik. Di sana kekayaan kosakata Anna bertebaran.
30 halaman TTS dengan puluhan ragam variasi kolom untuk diisi, berikut kunci jawabannya,  terasa tidak sembarangan pilihan kosakatanya. Ada banyak kata yang berbobot dan kerap tidak kita ketahui atau pedulikan maknanya, kita diajak berpikir sekaligus mencerna.
Meski, terus terang, saya alami kesulitan dan tak pernah bisa penuh mengisi kolom karena ada banyak kolom yang berdiri sendiri sekaligus tidak bertautan dengan kolom lain yang lebih mudah, sehingga kerap terpaksa mencontek kunci jawabannya di bagian belakang. Barangkali Anna bisa mempertimbangkan tingkat kesulitan buku TTS yang disusunnya, bahwa kata sulit sebaiknya disandingkan dengan beberapa kata yang lebih mudah dalam tautan kolom.
Dalam bagian 30 halaman cari kata, masing-masing ada 40 kata bermakna di antara huruf yang berserakan. Anda bisa menemukannya dari kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah, bawah ke atas, dan diagonal atas bawah; masih lebih dirasa mudah karena konsistensi tautan abjadnya.
Nilai tambah dari TTS & Cari Kata Seputar Islam adalah pengetahuan tentang Islam. Wawasan baru bisa Anda temukan. Ingatan dan pengetahuan yang telah lama Anda miliki pun jadi bangkit kembali. Dengan kata lain, Anna mengajak kita untuk belajar Islam jadi seru, penuh tantangan, dan menyenangkan.***
Cipeujeuh, 26 September 2014

Pemuda Dungu dan Keledai



Dongeng Rohyati Sofjan


ADA seorang pemuda yang dikenal dungu di desanya. Ia berniat membeli kuda ke pasar ternak di kota. Pemuda itu merasa yakin akan bisa membeli kuda terbaik yang kuat dan cepat. Ia ingin bisa bepergian ke mana saja dengan kudanya. Pemuda itu telah mengumpulkan uang yang susah payah ditabung dari pekerjaannya  sebagai petani.
“Dengan kuda,” gumam pemuda dungu, “aku bisa langsung menjual hasil pertanianku ke kota. Tak perlu lagi menjual murah pada tengkulak karena tak ada pilihan. Aku tak mau selamanya dianggap dungu oleh orang-orang!”
Dengan langkah mantap pemuda itu menyusuri jalan ke kota saat fajar baru saja merekah. Jadi perjalanan panjang yang ditempuhya selama berkilo-kilo meter menuruni bukit menuju kota tak dirasa melelahkan. Pemuda dungu membawa cukup perbekalan untuk perjalanan panjangnya yang kali ini dilakoni dengan riang.
Setiba di kota, hari jelang siang, dengan uang yang ada pemuda dungu berhasil membeli seekor kuda jantan yang sehat dan kuat. Si penjual bilang kuda ini kuda yang terbaik. Perlakukan dengan baik sebagai hewan peliharaan agar patuh dan setia, pesannya. Pemuda dungu mengiyakan. Si penjual lalu memberi cap nama pemuda dungu pada bahu kanan kuda. Cap itu dari besi panas yang ditempelkan agar meninggalkan tonjolan nama pada kulit kuda. Kata si penjual untuk jaga-jaga agar tidak dicuri orang dan bisa sebagai bukti sah kepemilikan.
Karena belum bisa berkuda, si pemuda menuntun kudanya berjalan pulang kembali ke desa. Sebelumnya, ia menyempatkan diri membeli perbekalan di pasar kota. Bahan makanan dan bibit tanaman, berikut pupuk dan obat-obatan untuk pertanian. Semuanya disampirkan di punggung kuda dengan tas khusus untuk mengangkut perbekalan yang juga dibelinya. Pemuda dungu pulang dengan riang. Ia menuntun kudanya dengan hati-hati karena belum terbiasa. Kuda itu menurut dengan jinak. Sesekali pemuda dungu menepuk lembut badan kuda dan mengajaknya bicara.
“Kamu akan kuperlakukan dengan baik di desa. Kamu akan beroleh cukup makan dan minum, juga perawatan.”
Si kuda cuma meringkik saja.
Setelah berjalan cukup lama, si pemuda kelelahan dan mengajak kudanya istirahat di dekat mata air. Si kuda merumput setelah minum air. Pemuda dungu makan perbekalannya. Angin sepoi-sepoi membuat pemuda dungu mengantuk, ia tidur di bawah rindang pohonan. Kuda ditambatkan di cabang pohon yang menjorok.
Saat pulas tidur itulah, ada seorang peternak sedang menyeret keledainya dengan kasar. “Dasar binatang lamban!” umpatnya sambil terus mencambuki badan keledai agar jalan cepat. Namun si keledai tidak terima dicambuki terus, sesekali mogok karena ngambek dengan perlakuan kasar tuannya. Namun si peternak seperti tidak peka pada perasaan binatang. Hanya menganggap binatang tak lebih hewan peliharaan yang bisa diperlakukan sesukanya.
Ketika si peternak hendak beristirahat di tempat pemuda dungu. Ia iri pada kuda yang dimiliki si pemuda. “Bagus sekali kuda itu,” pikirnya. “Berbeda dengan keledaiku yang bodoh.” Ia mengaso sambil terus memerhatikan kuda yang merumput dengan tenang. Ketika disadarinya siapa pemilik kuda itu, seorang pemuda yang terkenal dungu di desanya! Niat jahat muncul di hati peternak.
“Akan kutukar keledaiku dengan kudamya.” Pikirnya. Lalu dengan hati-hati menurunkan tas perbekalan yang bertengger di punggung kuda. Menurunkan beban di punggung keledainya dengan tas perbekalan si pemuda. Menaikkan tas perbekalan peternak di punggung kuda. Tentu saja si keledai kaget karena bebannya lebih berat dari tadi. Masih dengan gerakan hati-hati agar tak menimbulkan kegaduhan, Si peternak menuntun keledainya ke tempat kuda tadi ditambatkan. Lalu mengendap-endap menuntun kuda si pemuda ke tempat yang agak jauh. Setelah itu si peternak menaikinya dan menghela kuda agar segera melesat meninggalkan tempat semula.
Ketika si pemuda bangun dari tidur siangnya yang nyaman. Matahari tak seterik tadi. Ia beranjak menuju kudanya. Namun alangkah terkejutnya si pemuda karena kudanya telah berubah bentuk lebih kecil dari semula. Pemuda dungu mencubit pipinya sekadar memastikan tidak sedang bermimpi. Namun hewan yang baru dibelinya tetap berubah jauh lebih kecil daripada semula.
Dengan bingung si pemuda berjalan mengelilingi “kudanya”, mengusap-usapnya sekadar memastikan nyata. Lalu tibalah si pemuda pada kesimpulan sembarangan, barangkali kudanya berubah kecil karena kelelahan menempuh beban berat dalam jarak yang sangat jauh.
Pemuda dungu mengusap-usap bahu keledai. “Akan kurawat kamu dengan baik, cukup makan dan minum agar badanmu pulih seperti semula,” katanya lembut. Si keledai hanya meringkik.
Begitulah, pemuda dungu menuntun “kuda”-nya pulang tanpa menyadari bahwa binatang yang dituntunnya adalah keledai. Dan menepati janji untuk merawat hewan peliharaannya dengan baik. Tidak mempermasalahkan bahwa “kuda”-nya tak sebesar semula, berpikir barangkali ia telah membuatnya sakit dan kelelahan sehingga berubah wujud.
Perlakuan semacam itulah yang membuat keledai setia dan tetap sehat sampai sekarang. Membantu pemuda dungu membawa hasil pertaniannya untuk dijual ke kota. Tidak rewel sebagaimana pada majikannya semula yang kasar dalam memperlakukan binatang.
Dengan bantuan keledai itulah, hidup pemuda dungu jadi lebih makmur. Ketika ia telah memiliki cukup uang untuk membeli kuda lagi agar bisa meringankan beban keledai, bersama keledainya pemuda dungu pergi ke pasar ternak di kota. Kali ini pemuda dungu bisa tiba lebih pagi karena menaiki punggung keledai. Ia berangkat sebelum fajar merekah seperti bertahun-tahun lalu.
Pemuda dungu menemui penjual kuda yang dulu. Membeli seekor kuda betina yang kuat dan sehat. Setelah usai jual beli dan si penjual melakukan apa yang biasa dilakukan pada pembeli; wanti-wanti agar memperlakukan kuda dengan baik, lalu memberi cap pada badan kuda.
“Bagaimana kabar kudamu yang dulu?”  tanya si penjual ramah.
“Kudaku baik-baik saja,” kata si pemuda dungu sambil menunjuk “kuda”-nya yang ditambatkan tak jauh dari mereka.
Demi melihat bentuk yang ditunjuk, si penjual garuk-garuk kepala kebingungan. Ia yakin telinganya tak salah dengar, tadi pembeli setianya bilang ‘kudaku’.
“Yakin itu kuda yang dulu kamu beli di sini?” si penjual memastikan. Pemuda dungu mengangguk mantap.
“Lihatlah, sampai sekarang tetap sehat dan kuat.” Katanya bangga. Ia baik-baik saja memperlakukan hewan sampai hidupnya jauh lebih makmur daripada dulu, dan bisa membeli kuda lagi.
“Boleh kulihat?” Tanpa menunggu persetujuan, si penjual gegas menghampiri makhluk yang diyakininya adalah keledai. Si pemuda mengekorinya sambil menuntun kuda. Si penjual memeriksa keledai, jelas ini memang keledai dan tak ada cap nama pemuda dungu yang pernah ia terakan di atas kulitnya.
“Ini keledai!” Seru si penjual prihatin.
“Keledai?” pemuda dungu kebigungan, seumur hidupnya baru kali ini ia mendengar kata itu. “Apakah itu?”
Bukannya menjawab, si penjual memandang pemuda dungu sambil menilai bahwa pembeli setianya barangkali telah ditipu. “Bagaimana bisa berubah seperti ini?” tanya si penjual iba.
“Aku tidak tahu,” pemuda dungu kini kebingungan memandang keledainya. Apa beda kuda dengan keledai? Jika ini memang keledai yang lebih kecil daripada kuda, bagaimana caranya hingga bisa berubah?
“Bagaimana bisa tidak tahu?” Si penjual mencoba sabar. “Tidakkah seseorang menipumu?”
“Menipuku?!” Pemuda dungu tersentak. Kali ini wajahnya berubah muram. Ia seseorang yang terkenal dungu di desanya, sudah seberapa sering dirinya ditipu?
“Coba ingat,” kata si penjual masih dengan sabar. “Barangkali kamu bertemu seseorang yang menukar kudamu diam-diam atau terang-terangan?”
“Sama sekali tidak,” geleng pemuda dungu. “Ah, aku tidak yakin betul.” Ia mulai berpikir. “Dalam perjalanan pulang usai membeli kuda, aku tertidur di bawah pohon tepi jalan. Lalu saat bangun kulihat kudaku telah berubah wujud. Aku tidak tahu mengapa.” Ia menunduk sedih sambil mengelus-elus punggung binatang yang kini diketahuinya adalah keledai. Namun si pemuda dungu telanjur sayang pada keledainya.
“Pasti seseorang telah menukar kudamu dengan keledai itu!” kesal si penjual, ia tidak tahu haruskah kesal pada pemuda dungu atau pencuri kudanya.
“Biarlah,” kata si pemuda dungu. “Aku ikhlaskan saja. Toh, aku telah dapat ganti lagi berkat keledai ini.”
“Biar kusuruh orang untuk ikut mengawal kudamu sampai tiba dengan selamat di desa!” Kata si penjual tegas. Memanggil pekerjanya untuk mengawal pemuda dungu berikut kuda dan keledainya ke desa agar kejadian yang dulu tak terulang lagi.
“Berhati-hatilah,” kata si penjual sambil menyalami pemuda dungu yang mengangguk mantap.

Syahdan, setelah lima tahun lewat. Pemuda dungu kian makmur saja dalam usahanya. Ia telah menikah dan baru punya anak. Tanah pertaniannya kian luas, pemuda dungu selain bertani juga mengelola peternakan kecil-kecilan. Ia telah mampu menggaji orang untuk membantu pekerjaannya agar berkembang lebih baik.
Pemuda dungu belajar dari kehidupan agar tidak lagi dungu. Perempuan yang dinikahinya selain cantik dan baik budi, juga terpelajar. Jadi pemuda dungu bisa belajar banyak dari istrinya. Namun pemuda dungu tetap memperlakukan dengan baik hewan-hewan peliharaannya. Termasuk keledai yang telah banyak membantunya sampai sekarang. Pemuda dungu tak menyesal punya keledai.
Sedang peternak licik yang serakah telah menukar keledai miliknya dengan kuda pemuda dungu itu, malah beroleh kesialan. Tangan dan kakinya patah hingga ia pincang selamanya gara-gara jatuh dari punggung kuda. Kuda pemuda dungu sudah bosan dengan perlakuan semena-mena si peternak yang kasar dan kejam. Jadi kuda sengaja menjatuhkan si peternak yang mencambukinya. Saking marahnya si peternak mengusir kuda itu dari peternakannya. Sekarang kuda pemuda dungu adalah kuda liar yang bebas.
Suatu hari kuda pemuda dungu berjalan mendekati tanah pertanian pemuda dungu. Ia tertarik pada kuda betina yang ada di sana. Dan pada saat itu pemuda dungu keluar untuk menuntun kembali kudanya masuk kandang, terheran-heran melihat ada kuda lain di dekat kudanya.
Pemuda dungu menghampiri mereka. Kuda liar itu tampak jinak. Pemuda dungu mengelus punggungnya, dan pada saat itulah tampak cap namanya tertera pada bahu kanan kuda. Pemuda dungu gembira kala menyadari kudanya yang telah lama hilang kembali. Ia menuntun mereka berdua masuk kandang dengan bahagia.***
Cipeujeuh, 3 Maret 2012









Kau yang Bernama Februari





Tidakkah kau tahu hadirmu adalah gigil
bagi jiwaku yang dilebam hening.
Kaulah musim semi sekaligus dingin.
Serbuk sari memadati udara, diembus angin
bercampur derai hujan yang menyalib musim.

Aku tahu di setiap tikungan nasib
selalu ada kau dengan senyummu yang menenangkan.
Membuai jiwaku terbang dari semadi panjang
ruang kehampaan.

Kau pernah membuatku ingin menari-nari
hilang kendali, pada suatu malam.
Kala aku menyeberang perempatan
Jalan PETA-Lingkar Selatan.

Kaulah impian tak berujung sekaligus nyata
yang terkadang raib untuk diraba.
Dan punggung tegapmu  perlahan menjauh
kala aku mencoba menghimpun asa
untuk menyentuh.

Kaulah musim semi sekaligus gigil bagi tubuh!
Cipeujeuh, 4 Februari 2012

Kandang Sapi Pak Atep



Cernak Rohyati Sofjan


DI depan rumah kami ada kandang sapi kepunyaan Pak Atep. Pintu kandangnya menghadap samping timur sedang pintu rumah kami menghadap selatan. Jarak antara pintu rumah dengan kandang sapi hanya sekira dua meter. Bisa dibayangkan pada saat tertentu udara beraroma kotoran sapi yang pup bergunduk-gunduk soalnya ada enam ekor sapi besar.
Aku kaget waktu pertama kali melihat dari luar kandang,  sapi-sapinya besar sekali seperti bison. Kata Mamah itu sapi khusus buat dipotong bukan diperah. Warnanya kecokelatan, tidak mirip sapi dalam gambar susu kalengku; putih dengan bercak belang-belang hitam.
Aku terganggu dengan bau sapi yang kerap menerobos masuk rumah, sangat tidak nyaman. Mamah minta aku bersabar soalnya kami tinggal di rumah ini sebagai penumpang. Ya, kami menempati rumah kosong sekeluarga berempat, hanya ada satu kamar dan sangat tidak memadai. Jika malam, aku dan palung tidur di kamar, mamah dan bapak di ruang tengah dengan kasur lipat digelar.
Untuk bikin rumah kata mamah sangatlah mahal. Mamah dan Bapak sedang mengupayakan itu. Bapak bekerja sebagai buruh tani serabutan di mana-mana. Sejak menempati rumah ini Bapak selalu dapat kerjaan dan kami bisa tenang. Sebelumnya kami tinggal di rumah nenek, beberapa ratus meter dari sini, namun di sana tidak nyaman.
Sejujurnya aku terganggu dengan kandang sapi, kandang yang sudah sejak lama ada dan sempat kosong karena sapinya dijual dulu. Sebelum terisi sapi semuanya oke-oke saja. Aku malu rumahku berdekatan dengan kandang. Teman-teman jadi malas main. Kecuali Palung adikku yang baru berusia dua tahun lebih, ia senang saja karena setiap hari bisa melihat sapi. Palung yang lucu akan meniru suara sapi dengan mooo... panjang, mulutnya dimanyunkan. Celotehan riangnya selalu tentang sapi. Mamah dan Bapak akan menanggapi Palung dengan senang, sebaliknya aku cemberut.
“Aduh!” seruku gusar ketika aku sedang membaca komik Asterix koleksi Mamah,   Palung menerobos masuk kamar dan langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuhku yang sedang duduk di kasur, menggangguku dengan mooo-nya yang konyol.
“Sapi!” kata Palung dengan polos. Anak itu tak kenal rasa bersalah sama sekali.
“Iya sapi. Di luar saja, Pal. Teteh mau baca.”
“Sapi!” ulang Palung sambil berdiri, menarik-narik lenganku, “Hayu!”
Aku bergeming. Palung kesal. Ia mengentakkan kakinya dan mulai memukulku berulang-ulang sambil mengerang. Waduh. Aku kewalahan. Tenaganya tak kira-kira. Mamah membuka tirai dan masuk kamar.
“Temani Palung main di luar, Najm.”
“Mah!” protesku.
“Hanya sebentar, Sayang. Mamah sedang masak.” Mamah berkata dengan lembut sambil mengusap kepalaku dan Palung, tersenyum padaku dan Palung yang masih berceloteh sapi sambil menunjuk ke luar. Lalu menandak-nandak senang.
Aku menggerutu. Menggendong Palung ke luar. Main bersama Palung aku oke, tapi anak ini ingin nonton sapi, dan aku alergi berdekatan dengan sapi. Susu sapi aku doyan, bertetangga baik dengan sapi sama sekali tak pernah kubayangkan.
Kini kami berdiri beberapa meter dari pintu kandang yang terbuka dan hanya menampakkan bagian samping tubuh sapi, mereka semua sedang berdiri. Aku hanya bisa bengong, ini pemandangan yang membosankan, kecuali bagi Palung tentunya yang sedang asyik menonton sapi. Masing-masing tiap sapi dipisahkan sekat tembok sepanjang separuh badan. Berada di bagian lebih tinggi dan ada parit kecil tempat saluran air kotor kalau sapi atau kandangnya habis dibersihkan.
Dari arah bawah jalan setapak bagian selatan, Bapak tahu-tahu muncul. Baru pulang kerja dari kebun punya Pak Ipit nun di bukit timur, kasihan pulang pergi selalu jalan kaki, namun wajah lelahnya sumringah. Syukurlah. Bapak menyapa kami. Palung menyambut Bapak dengan antusias dan merentangkan kedua lengannya minta digendong.
“Sapi.” Palung berceloteh sambil menganggukkan kepalanya, lalu menunjuk ke dalam kandang.
“Dari tadi pengen nonton sapi, Pak.” Aku agak cemburu karena Bapak asyik menciumi pipi Palung. Bapak hanya tertawa. Aku bersiap kabur, mengabari Mamah bahwa Bapak sudah pulang. Lalu aku akan melanjutkan membaca petualangan Asterix dan Obelix yang sedang membak-bik-buk pasukan serdadu Romawi  hingga kocar-kacir. Namun Pak Atep muncul dari arah belakang kami dan menyapa Bapak. Mereka berbincang sebentar, lalu Bapak mengikuti Pak Atep masuk kandang.
“Ayo Najm,” ajak Bapak.
Coba bayangkan, baru kali ini aku terpaksa mengikuti Bapak masuk ke dalam kandang. Terus terang aku penasaran juga untuk tahu ada apa di dalam, anak-anak suka mengintip melalui celah dinding kandang yang terbuat dari pagar bambu menjulang. Kami melewati ambang pintu lalu berbelok ke samping kiri sekat tembok. Melihat sapi dari depan. Mereka sedang mengunyah jerami padi yang habis dipanen.
Aku bengong. Duduk-duduk di bangku panjang. Melihat sekitar. Di belakang kami ada tumpukan pup sapi yang ditutupi abu bekas bakaran kayu. Bapak asyik mengobrol dengan Pak Atep. Bujang pengurus sapi sibuk bekerja. Bujang itu tidur di  loteng, tepat di atas jalan masuk. Aku kasihan padanya. Apa tahan berkutat dengan bau-bauan? Banyak nyamuk lagi kalau malam.
Harus kuakui kandang ini tak parah. Setiap ada sapi yang pup, kotorannya langsung diseruk dengan sekop lalu dikumpulkan ke gundukan belakang kami. Aneh memang, tak ada banyak lalat. Sepertinya Pak Atep apik mengurus kandangnya agar tak terlalu bau sebab berada tepat di tengah permukiman penduduk kampung. Hanya pada waktu tertentu bau meruak, itu jika sapi sedang pup.
Dan rumahkulah yang sering menerima aroma macam itu karena merupakan bangunan terdekat. Selebihnya bagian timur dan selatan merupakan sebidang tanah kosong yang memisahkan dengan rumah lain. Bagian barat adalah kebun Pak Atep dan membentang luas sampai perbatasan permakaman.
Aku bertanya pada Bapak untuk apa kotoran sapi itu dan akan dibuang ke mana. Pak Atep yang mendengarnya hanya tertawa, ia menangkap nada kekhawatiranku.
“Diolah dulu untuk dijadikan gemuk lalu dijual,” ujar Pak Atep sambil menunjuk tumpukan pup di belakang kami.
Gemuk adalah bahasa Sunda untuk semacam pupuk kandang. Bapak mengusap kepalaku dan berkata agar jangan khawatir.
Aku pernah baca artikel di koran atau majalah apa, gitu. Mamah yang berprofesi sebagai penulis lepas punya banyak bahan bacaan di rumah. Fetus alias kotoran sapi bisa diolah jadi bahan bakar biogas sampai campuran pembuat bata dan gerabah yang kuat. Sepertinya Pak Atep belum berpikir ke sana karena masih merupakan peternakan kecil. Baru dimulai pula setelah sempat vakum lama.
Kalau saja kami punya peternakan sapi mungkin bisa mengolah limbah kotorannya jadi sesuatu yang bermanfaat. Sebagai sumber bahan bakar alternatif agar kami tak perlu masak di tungku kayu bakar. Kata Mamah gas mahal dan takaran isinya  meragukan karena sering kurang dari timbangan.
Aku berharap suatu saat kelak kami punya rumah sendiri dan peternakan yang canggih. Siapa tahu aku dan Palung bisa sukses sebagai pengusaha dari hasil pup sapi, hehe.
Semoga saja bibit pohon jati, jabon, alba, dan sengon yang ditanam Bapak di kebunnya bisa menghasilkan. Kata Bapak butuh waktu 5 tahun lebih untuk tumbuh besar sebelum dijual. Itu bisa jadi modal bagi kami. Karena itu Bapak minta agar kami bersabar tinggal berdekatan dengan kandang. Belajar dari apa yang dikaruniakan alam.***
Cipeujeuh, 30 Januari 2012